Mistik dan makrifat sunan kalijaga harus dikuasai orang jawa

mistik dan makrifat sunan kalijaga
mistik dan makrifat sunan kalijaga

Telah kita ketahui bersama-sama sejarah tentang  mistik dari jawa yang dimana mistik tersebut adalah kolaborasi antara jawa dan islam yang di awali oleh beliau baginda sunan kalijaga sehingga muncul karangan buku mistik dan makrifat sunan kalijaga yang menjadi bahan acuan atas dasar ilmu mistik ditanah jawa. mengenai  mistik mungkin hanyalah sebatas misteri saja namun ketika kita membahas mengenai makrifat, itulah yang memerlukan ketulusan belajar dan memakan waktu yang lama sehingga kemakrifatan diri dengan Allah SWT bisa terwujud.

Kepulauan jawa meliputi tiga provinsi yakni jawa tengah, timur, dan barat. masing-masing provinsi mempunyai aliran mistik yang berbeda, akan tetapi yang lebih dominan untuk mengikuti mistik dan makrifat sunan kalijaga adalah jawa tengah karena makam dari sunan kalijaga itu di demak jawa tengah, nah sekarang simaklah artikel ini ya sobat hingga selesai. memang untuk mempelajari mistik dan makrifat tidaklah mudah dan memerlukan waktu yang relatif lama, dan ketika sudah berhasil maka hasil kebaikanlah yang akan menemanimu untuk hidup di dunia dan akhirat.

Simak Juga Jangan pernah melakukan hal ini walau hanya sekali

Buku ini mengupas sebuah doa “Rumeksa ing Wengi” peninggalan Sunan Kalijaga salah satu wali fenomenal di tanah jawa , meskipun doa tersebut ditulis dalam bahasa jawa dan cara membacanya dengan dikidungkan dengan dhandanggulo, pembaca akan memahami artinya karena si penulis telah menterjemahkannya dalam Bahasa Indonesia.

Mengapa harus dikidungkan? Itulah pertanyaan yang timbul dalam pikiran saya waktu membaca buku ini. Setelah membacanya, saya tahu bahwa dengan kidung kita akan lebih hanyut, menerawang tinggi, bahkan kita lupa bahwa saat ini kita sedang duduk membaca doa. Hati kita akan makin tenang, sunyi. Hanya terdengar lantunan doa dan degup jantung kita yang makin halus, sehingga kita benar-benar akan menghayati lantunan doa “Rumeksa ing Wengi” cipataan Sunan Kalijaga ini. 

Dengan membaca buku ini saya makin mengerti mangapa kalau membaca Al Qur’an ada iramanya, dan kalau wirid selalu berirama karena dari lantunan irama atau kidung akan membuat hati tenang dan pikiran  jernih, sehingga doa yang dipanjatkan terkonsentrasi, daya dari pengucapan doa bangkit. Dan doa akan menjadi nyata. Coba kaitkan dengan tembang yang gampang kita ingat liriknya. Buktinya kita akan lebih mudah menghayati sebuah lagu yang kita nyayikan, bandingkan kalo kita hanya membaca liriknya tanpa memberi nada.

Buku ini juga mengulas ajaran Sunan Kalijaga mengenai kodrat diri manusia. Kita akan diajak menjelajahi setiap perjalan yang manusia lalui, mulai dari asal usul Dzat pembentuk kelahiran manusia dan eksistensi dari Sedulur papat kalima pancer yang sejak dari janin hingga sekarang tetap menjaga kita hingga kembali ke sang khalik nantinya, bagaimana manusia menerima dan “meneken” kodratnya, penyempurnaan hidup hingga bisa menyatu dengan sang diri sejati, bagaimana siklus hidup-matinya manusia.

Achmad Chodjim juga menjelaskan salah satu cara tarekat yang dilakukan Sunan Kalijaga untuk dapat manunggal dengan Tuhan YME yaitu dengan meditasi semedi. Dijelaskan dengan meditasi manusia dapat menyatukan diri dengan Tuhan.  Manunggaling kawula lan Gusti, dengan semedi manusia bisa men-defragmenting pikirannya sehingga dapat menyatukan perasaan, pikiran dan nafas dalam berzikir, puncak dari penyatuan ini adala ketenangan jiwa, tentramnya kalbu. Perasaan dan pikiran dikembalikan kepada Allah dan diiringi dengan perhatian terhadap nafas, menurut ajaran Sunan Kalijaga dalam buku ini nafas adalah kunci dari bersemedi karena nafas adalah wahana bagi Sang Permana untuk mengunjungi setiap sel tubuh manusia.
simak juga artikel terbukti ! keampuhan mistik jokowi tak tertandingi
Ada sebuah doa bahasa Jawa yang masih diamalkan oleh orang-orang Islam di Nusantara. Khasiat doa ini untuk menolak bala. Menyingkirkan penyakit. Mengusir hama dan penyakit tanaman. Membebaskan diri dari jeratan hutang. Bahkan untuk melindungi diri dalam pertempuran. Itulah doa "Rumeksa ing Wengi". Sebuah doa yang disusun oleh Sunan Kalijaga. Sunan pun melakukan dakwah dengan pendekatan budaya. Mungkin Anda pernah mendengar Gerebeg Mulud dan Sekaten. Itulah cara-cara Sunan Kalijaga untuk mengajak orang lain masuk agama Islam.

Dalam Islam "wasilah" merupakan cara mendekatkan diri kepada Tuhan. Cara yang ditempuh seseorang untuk sampai kepada-Nya. Namun, bentuk wasilah itu diperdebatkan kebenarannya oleh para ulama. Sunan tak hendak berdebat masalah teologi. Tapi dia memberikan contoh wasilah ala Jawa. Yang jika dipelajari ternyata menyentuh hakikat keislaman. Sekaligus menanamkan rasa cinta terhadap para nabi, sahabat dan keluarga Rasul. Sunah Rasul pun tidak sesempit sebagaimana yang kita kenal selama ini. Bahkan diwujudkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari secara nyata, misalnya penggunaan baju takwa.

Diri manusia juga dikupas dengan sisi pandang yang berbeda. Mungkin Anda pernah dengar "Sedulur papat kalima pancer", saudara empat yang pusatnya adalah Diri manusia. Itulah ajaran makrifat Islam. Di situ keimanan dalam Islam bukan semata-mata dipandang sebagai kepercayaan, tapi oleh Sunan diamalkan untuk membangkitkan Sang Pribadi. Agar dapat kembali dengan sempurna ke Hadirat-Nya.

Syariat, tarekat, dan hakikat dirajut menjadi satu. Dirajut menjadi makrifat dalam bentuk mistik Jawa. Sehingga agama tidak sekadar menjadi formalitas kehidupan. Tapi menjadi bagian kehidupan itu sendiri. Mistik dan makrifat yang umumnya dipandang sebagai klenik [dalam pengertian negatif], oleh Sunan diolah menjadi ajaran yang bermakna bagi kehidupan. Selamatan pun tak ketinggalan. Jika selama ini selamatan hanyalah tradisi yang tidak diketahui maksudnya, maka dalam buku ini makna dari selamatan sehari hingga seribu hari itu disajikan dengan bahasa yang sederhana. Karena hakikat kebenaran itu satu. Maka, dengan satu ikatan yang benar, yang juga disebut tauhid, itulah seseorang menghadap ke Hadirat Tuhannya.

PERLINDUNGAN DIRI


Sunan kalijaga adalah seorang pragmatis. Dalam erti, pengetahuan yang dimiliki lebih terkait dengan urusan-urusan praktis dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, ya kidung “rumeksa ing wengi” ini. Setiap hari manusia tidur, khususnya dimalam hari. Namun, malam tetap merupakan sumber berbagai macam kejahatan. Kerana malam merupakan tempat berlindung yang baik bagi perbuatan jahat, keselamatan diwaktu malam sangat penting, agar besoknya bisa melanjutkan kehidupan dibumi ini. Sunan menawarkan doa keselamatan di malam hari. Keselamatan merupakan bahagian pokok dari misi agama. Dan agama apa sahaja kurang memiliki makna bagi pemeluknya, jika tak ada keselamatan yang bisa ditawarkan kepada pemeluknya.

Dalam Al Quran sahaja ada surah yang dibaca sebagai mantra untuk perlindungan dari kejahatan di waktu malam. Surah lain yang dibaca untuk perlindungan diri ketika tidur adalah “ayat kursi”. Yaitu ayat 255 pada surah al baqarah. Tetapi Sunan tidak mengajarkan ayat tersebut untuk penjagaan diwaktu malam. Digalinya perbendaharaan spiritual jawa dan dipadukan dengan ajaran Islam. Lalu dihasilkannya tembang Rumeksa ing Wengi sebanyak 5 bait.

Kidung ini juga dimaksudkan untuk membebaskan diri dari serangan berbagai penyakit. Baik yang bersifat fisik maupun kejiwaan. Kerana itu, di dalam baitnya dinyatakan dengan tegas bahawa kidung ini menyelamatkan diri dari penyakit, semua petaka, jin dan setan, dan perbuatan orang yang salah. Guna-guna pun tak mau mendekat. Bahkan pencuri pun takkan mengarah pada orang yang mengamalkan mantra kidung rumeksa ing wengi. Bagaimana boleh terjadi? Ya boleh, mantra itu kalau dibaca dengan keyakinan dan penghayatan yang tinggi akan membangkitkan suatu daya.

Dengan kata-kata yang sederhana dan dimengerti serta diresapi oleh pembacanya, maka terciptalah energi metafisik dalam diri pembacanya. Perlu diketahui, bunyi atau irama lagu adalah bentuk-bentuk energi. Kerana itu, jangan heran bila tutur kata atau lagu yang di nyanyikan dengan merdu bisa mempesonakan pendengarnya. Energi yang timbul itulah yang selanjutnya membawa kita ke relung terdalam dalam kehidupan kita. Bangkitlah ingsun sejati kita. Tersambunglah daya itu dengan Guru Sejati yang selalu berhubungan dengan Sang Penguasa. Lalu, melalui pikiran kekuatan itu diarahkan kepada yang dituju. Yaitu, untuk pencegahan penyakit, penyembuhan, tolak bala dan petaka, menolak sihir dan guna-guna.

Mengapa mantra bisa mempunyai kekuatan? Sebenarnya, kekuatan metafisik itu melekat pada mantra atau kidung; kerana ayat, mantra atau kidung suci itu wujud dari kekuatan Ilahi. Tidak ada ayat sakti, meski pun dalam al Quran. Memperlakukan dengan hati yang bersih, keyakinan yang bersandar pada Allah semata-mata.

Sesungguhnya setiap orang ini telah dibekali “daya” dan “kekuatan” oleh Tuhan. Cuma, tidak setiap orang mampu membangkitkan daya dan kekuatannya. Sama seperti tangan dan kaki yang kita miliki. Ternyata tidak setiap diri kita ini mampu berbuat terampil dengan tangan dan kakinya. Doa mantra juga begitu. Meski kalimat doa yang dibaca sama, tetapi hasilnya bisa berbeza.

Setiap orang dianugerahi akal oleh Yang Maha Kuasa.Namun , nyatanya tidak setiap orang mampu menggunakan akal fikirannya. Tetapi kekuatan kidung, bukan lahir dari olah fikir. Daya dan kekuatan kidung merupakan hasil dari olah rasa!Didalam olah rasa itulah seseorang mampu menemui diri sejatinya. Ingsun sejati. Perlu diketahui bahawa “aku sejati” atau “ingsun sejati” atau “diri sejati” itu sama sekali berbeza dengan “ego”. Ego adalah “aku” yang dibungkus nafsu. Ego amat terikat oleh pengalaman indrawi. Kerana itu, sasaran ego adalah kepentingan diri sendiri. Pemuasan diri sendiri. Orang lain……., itu soal nanti.

INGSUN SEJATI


Ingsun Sejati ada di dalam rasa. Wa fi sirri ana. Di dalam “sirr” ada Aku. Kalimat ini saya petik dari sebuah hadis qudsi. Ya, didalam rasa itulah Aku. Jika ego memecah belah kemanusiaan, Ingsun Sejati menyatukannya.Jika ego memecah belah “Ingsun Sejati” menjadi serpihan-serpihan “aku”, Ingsun Sejati memegang kendali semua jenis keegoan.

Ego merupakan wujud Iblis yang ada di dalam diri manusia. Jika ego dilatih, akan dihasilkan pula kekuatan, tetapi itu kekuatan jahat. Kekuatan syaitan. Sifatnya hanya menjauhkan manusia dari kebenaran.Bila kita telah menemukan Diri Sejati kita , kita akan diiringkan menuju Guru Sejati, atau Roh Kudus yang ada di dalam diri kita. Dia sebagai tali penghubung antara “ingsun” dan Tuhan. Keyakinan yang kuat dari “Ingsun” yang mampu membangkitkan daya dan kekuatan yang ada di dalam diri. Sarana untuk membangkitkannya adalah mantra atau kidung suci. Kita sedar bahawa “tiada daya dan kekuatan kecuali pada Allah”. Daya dan kekuatan yang ada pada-Nya itulah yang kita berdayakan dengan membaca kidung.

itulah ilmu ngaji yang tiada habisnya untuk kita kajii, agar mistik dan makrifat sunan kalijaga bisa kita raih maka perlulah kita untuk belajar dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan tawakkal sehingga kita bisa mendapatkannya. semoga ilmu ini bermanfaat bagi anda semua, dan semoga juga kita yang belajar ilmu makrifat ini diberi kemudahan oleh Allah SWT amiiin....

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel